SELAMAT DATANG

SELAMAT DATANG - Semoga memetik manfaat dalam menikmati sajian secuil berita & hiburan pada blog ini. Saran, kritik & dukungannya dibutuhkan guna kebaikan kedepan yang berkelanjutan, Wassalam.

Minggu, 05 Februari 2017

Lemahnya kesadaran Warga Bekasi Regensi dan sekitar akan Sampah dan Saluran Air

Saluran Air di Perum Bekasi Regensi 1 Wanasari Cibitung Bekasi

Awal tahun 2017 sudah kita ketahui adalah tahun memasuki musim Penghujan. Hujan deras dan Angin menjadikan masyarakat JABODETABEK dan masyarakat Indonesia umumnya, ketakutan akan Banjir. Sewajarnya Hujan patut disyukuri bukan untuk ditakuti, tetapi dampak dari hujan seperti banjirlah yang menjadi kewaspadaan semua warga.  Terlebih kota Kabupaten Bekasi, yang kasat mata dapat kita lihat sebagai kota yang memiliki saluran air (limbah) sangat buruk..Kalaupun kini nampak upaya keras dari pihak pemerintah daerahnya yang kini berusaha memperbaiki dibeberapa titik saluran-saluran air tersebut, dalam upaya penanggulangan/mengurangi banjir, namun masyarakat diperumahan nampaknya harus bersabar, karena memang PEMDA Kab. Bekasi belum mampu dalam arti keterbatasan anggaran (mungkin) untuk perbaikan saluran yang ada diperumahan-perumahan kita.
Saluran Air di Perum Bekasi Regensi 1 Wanasari Cibitung Bekasi
Saluran Air di Perum Bekasi Regensi 1 Wanasari Cibitung Bekasi

Hujan deras yang kerap terjadi akan menjadi Banjir dan terus terjadi berulang ulang. Memang Hujan adalah kehendak alam yang tidak bisa kita lawan, namun menurut saya banjir yang terjadi bukan semata-mata dikarenakan hujan, tapi lebih karena sampah dimana-mana (sungai dan selokan/got). Marilah masyarakat Kab. Bekasi untuk lebih Peduli dan Peduli pada kebersihan dan kesehatan lingkungan, jangan hanya berpangku tangan apalagi bergantung pada pemerintah daerah. Banjir lebih disebabkan karena kelalaian manusianya yang membuang sampah sembarangan, yang menjadi penyumbat saluran air. Sering kali kita temui penyumbatan pada Saluran air yang menyebabkan air menggenang dijalan bahkan menyebabkan banjir di beberapa wilayah, misalkan diwilayah sekitar Perum Bekasi Regensi Wanasari Cibitung Bekasi,

Dengan begini, peran Ketua RW dan RT dalam mengedukasi bersama warganya sangat membantu juga dibutuhkan. Kesadaran akan tidak membuang sampah sembarangan apalagi kesungai agar tidak dilakukan mulai dari lingkungan sendiri. Agar kita tidak menemui lagi penyumbatan pada sungai dan saluran air. Banjir adalah bencana alam yang beberapa hal penyebabnya yaitu lemahnya kesadaran manusia bahkan kepedulian kita terhadap lingkungan. Apabila banjir kita hanya bisa mengeluh dan menyalahkan pemerintah. Saya berharap pemerintah daerah bersikap tegas terhadap orang-orang (perorangan maupun institusi dan pabrik) yang membuang sampah sembarangan dan memberikan sangsi tegas tanpa toleransi.

Kamis, 03 November 2016

DOA & HARAPAN 4 NOPEMBER 2016


YA TUHAN-ku….YANG MAHA KUASA dan MAHA TAHU….Izinkan ku bertanya pada-MU
Perihal Aksi Penistaan atas Firman-Mu (alat bukti masih/menunggu proses penyidikan) ;

Apakah ?
Sebuah kata (ucapan) salah dapat dibenarkan, bila sebuah kata/kesalahan terucap untuk menyampaikan suatu kebenaran. Sebuah kata (salah ucap) dapat disalahkan, karena kurang bukti dan syarat dalam pemenuhan tuntutan, proses penegakan hukum dapatkah dijalankan. Kebenaran hanya Milik-Mu, Kau Yang Maha Tahu, kupasrahkan hanya Pada-Mu.
Kenapa ?
Kami mudah diperdaya oleh sebuah kata, sementara kami tahu akan maksud dan maknanya. Sekalipun hanya dia (pengucap) dan Kau Yang Maha Tahu. Kami mudah diperdaya oleh sebuah kata, yang mendorong kami untuk bersikap keras penuh amarah, sementara kami sadar namun pasrah hanya demi sebuah pemenuhan keinginan perorangan dan kelompoknya, 
Mungkinkah ?
Ketenangan, kenyamanan bersinar nan indah dalam sebuah penyampaian keinginan tanpa harus menimbulkan kesan kekuatan massa yang memancarkan rasa takut/kekuatiran bagi kebanyakan orang yang peduli keharmonisan, bahkan ada pula yang memandang ini sebuah kekonyolan/lawakan bagaikan panggung (tontonan) wayang golek. Akhirnya menjadikan harapan indah tersia-siakan.
Bisakah ?
Dengan bersikap cerdas, tenang, santun tanpa mengurangi ketegasan penyampaian kebenaran yang berkeadilan murni bersumber dari nurani terdalam, maka persatuan dan kesatuan akan terangkai kuat oleh ke-Bhinekaan Tunggal Ika dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.



Sabtu, 01 Oktober 2016

PANCASILA SAKTI



Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober 1965 merupakan hari kebebasan dari keganasan  sebuah gerakan yang popular disebut dengan  Gerakan 30 September (G30S), atau Gerakan September Tiga Puluh (GESTAPU), atau Gerakan Satu Oktober (GESTOK) karena terjadi lewat tengah malam tanggal 30 September, gerakan ini dikontrol/dikendalikan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) kala itu. Tanggal 30 September 1965 telah terjadi penculikan dan pembunuhan terhadap jenderal-jenderal yang merupakan putra terbaik bangsa Indonesia.  Selamatnya Bangsa dan Negara ini pada saat yang bersamaan hari itu juga adalah berkat usaha juga upaya masyarakat kita (rakyat dan TNI AD / RPKAD:  Resimen Para Komando Angkatan Darat) serta pertolongan Allah Yang Maha Kuasa.  Ya…itulah fakta sejarahnya, terlepas dari pro dan kontra atas peristiwa tersebut oleh dan siapa; apakah itu sebuah konspirasi politik? realita politik? rekayasa politik? Incident politik? atau entahlah.!? Boleh saja orang menyusun memoar bantahan terhadap peristiwa Gerakan 30 September 1965. Namun harus tetap diyakini (fakta dan realita) bahwa PKI telah melakukan makar terhadap pemerintah Republik Indonesia, yakni NKRI yang berlandaskan Pancasila.
Namun fakta sejarah seperti ini patut dijadikan salah satu momentum dalam penggalangan bahwa Pancasila memang Sakti, Pancasila adalah ideologi berbangsa dan bernegara yang sempurna bagi anak bangsa negeri ini, dimana Pancasila ini sifatnya adalah Universal (tidak memihak pada satu golongan suku, agama atau perorangan).
Dan kini pun setelah tujuh puluh satu tahun perjalanan bangsa Indonesia, mulai zaman Orde Lama (ORLA) dengan demokrasi parlementer, zaman Orde Baru (ORBA) dengan demokrasi terpimpin hingga Orde Reformasi 1998 dan saat ini dengan demokrasi multipartai.  Eksistensi Pancasila tetap kokoh di  bumi Nusantara tercinta ini, marilah sama-sama Pancasila kita jadikan pemersatu dalam berkepribadian, berkehidupan social dimasyarakat dan Pancasila jangan hanya dijadikan pajangan didinding kantor dan sekolah tanpa ada penghayatan dan pengamalan makna dari butir-butir Pancasila itu sendiri. Semoga Pancasila Sakti nan Abadi di bumi pertiwi...Amin!

Jumat, 02 September 2016

PILKADA DKI dan Kader Partai


Pergantian Kepala Daerah DKI Jakarta terbilang relatif masih lama, sejak awal tahun 2016 situasi persaingan politik di DKI Jakarta sebagai barometer daerah wilayah lainnya di Indonesia mulai terasa memanas. Lewat jalur indenpen Basuki Tjahaya Purnama atau lebih populer disebut Ahok bertekad akan maju kembali dalam PILKADA DKI Jakarta mendatang sebagai petahana. Bahkan relawan atas nama “Teman Ahok” sudah melakukan aksi pengumpulan satu juta KTP untuk mendukung Ahok maju kembali dalam PILKADA DKI Jakarta, yang ternyata berhasil dipenuhinya. 
Tidak hanya pihak incumbent yang sudah siap-siap amunisi sedari awal (akhir tahun 2015), pesaing Ahok lainnya pun banyak bermunculan namun satu persatu balik badan alias gugur karena elektabilitasnya dengan popularitas yang terbilang sangat bagus,  justru “nyusruk” (merosot) kurang diminati oleh masyarakat Jakarta maupun partai politik sebagai peminangnya. Aroma PILKADA DKI Jakarta amat terasa bernuaansa PILPERS., strategi diatas kertas antara PDIP - Demokrat dan GERINDRA mulai dimainkan dilapangan sebenarnya, nampaknya menarik untuk kita ikuti dengan cerdas dan cermat. 
Masyarakat kota khususnya Jakarta memamg sangat  jauh berbeda sekarang,  baik perilaku, gaya hidup, pola pikir dan cara pandang dalam alam demokrasi terbuka saat ini. Bila mengkhususkan pada cara pandang tentang PEMILU baik PILPERS maupun PILKADA, semakin bisa menggunakan haknya dengan baik dan benar dalam pilihan atas para calonnya. “Politik uang” sekalipun mungkin ada (?)  sebagai contoh; “uang tetap mereka terima, tapi pilihan dalam bilik suara hanya dirinya dan Tuhan yang tahu”.
Tidaklah mudah dan sangat sulit memang menciptakan individu yang mumpuni (cerdas, berkepribadian elok, profesionil, religius dan tentunya merakyat) kaitannya dalam membangun loyalitas dan integritas kader dalam sebuah partai. Dan lebih miris lagi apabila kebutuhan individu dan tuntutan organisasi partai politik tidak kompatibel, hal ini dimungkinkan bisa terjadi konflik dan frustasi internal. Lihat saja sekarang, partai-partai yang mencalonkan diri dalam PILKADA DKI Jakarta, apakah ada kader partai yang diusung jadi Gubernur ?  apakah semua individu/kader partai sepakat atas pencalonan partainya ?
PILKADA DKI Jakarta secara kasat mata dapat kita lihat, bahwa calon independen lebih mendapat tempat dihati masyarakat, apakah ini tanda rakyat mulai jenuh dan tidak lagi percaya pada partai politik ? apakah partai-partai telah miskin kader ? nyatanya ; justru kalangan profesionil atau kader non partailah (baik dari PNS atau militer dan lainnya) yang diusung oleh sebuah partai. Pertanyaannya sekarang, apakah setelah mereka berhasil digolkan/menang,  dapatkah mereka  membangun loyalitas dan integritas terhadap partai pengusungnya ?  
Tidak mudah memang membangun kepercayaan masyarakat kini, namun sangat disayangkan bila sebuah partai asal main comot sang calon diluar partainya hanya demi promosi /popularitas partainya, untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat. Dengan harapan bagi para pemilihnya juga imej masyarakat akan lebih mudah diarahkan untuk percaya terhadap partai pengusung.  Dengan menanamkan kesan bahwa harapan partai  akan menjadi harapannya juga , apakah bisa (?). Walahu a’lam bish shawab!

Perlukah Ikhlas & Amanah dalam ber-Organisasi (?)





Ikhlas ibarat buah dan intisari dari Iman, kita bisa dengan sendirinya menakar seberapa besar buah dan intisari dari iman kita. Kata yang mudah diucap namun terkadang sulit dilaksanakan. Contoh ; "sedekah sih berapa aja yang penting ikhlasnya"., benar! keikhlasan lebih harus kita utamakan tapi bila kita berkemampuan lebih dari yang kita berikan kenapa tidak bisa lebih (?). Kenapa kita bisa ikhlas beli gadget (telepon seluler) dengan harga jutaan rupiah plus ikhlas berlangganan ratusan ribu rupiah layanan telepon seluler (pulsa dan kuota), kenapa sedikit ikhlas (rupiah) buat tromol Masjid/tempat ibadah, fasilitas umum/sosial, organisasi kemasyarakatan dan lainnya, kenapa (?).

Makna ikhlas salah satunya disebutkan, adalah ketika ia mengarahkan seluruh perkataan, perbuatan, jihadnya/berusaha dalam mencapai kebenaran yang di ridhai dan hanya untuk Allah SWT.
 
Adalah sebuah "Amanah" bila kita membentuk sebuah "Forum Silaturahmi" ataupun "Lembaga Swadaya Masyarakat", dari, untuk dan oleh masyarakat namun pertanggung jawabannya moril ada pada Yang Maha Kuasa.

Amanah adalah segala sesuatu yang dibebankan Allah SWT kepada manusia untuk dilaksanakan (Q.S. 32 : 72) yang tercakup di dalamnya khilafah ilahiyah (khalifat allah, ibad allah), khilafah takwiniah (al-taklif al-syar'iah) dalam kaitannya dengan hablun min allah dan hablun min al-nas.
                         
Dalam ajaran Al-Qur'an manusia adalah makhluk yang memikul beban (mukallaf). Pembebanan (taklif) meliputi hak dan kewajiban. Setiap beban yang diterima manusia harus dilaksanakan sebagai amanah.
Amanah mempunyai akar kata yang sama dengan kata iman dan aman, sehingga mu'min berarti yang beriman, yang mendatangkan keamanan, juga yang memberi dan menerima amanah. Orang yang beriman disebut juga al-mu'min, karena orang yang beriman menerima rasa aman, iman dan amanah. Bila orang tidak menjalankan amanah berarti tidak beriman dan tidak akan memberikan rasa aman baik untuk dirinya dan sesama masyarakat lingkungan sekitar/sosialnya. Dalam sebuah hadist dinyatakan "Tidak ada iman bagi orang yang tidak berlaku amanah".

Sekilas pengertian arti ikhlas dan amanah yang dikutip dari beberapa sumber. Maka wajib bagi kita untuk menerapkan/melaksanakan ini semua demi lancarnya jalan roda organisasi baik keagamaan, sosial, politik, budaya dan banyak lagi.  
Demikian dan maaf atas segala penyampaian yang jauh dari pencerahan (tidak sempurna).